Project-Base Learning & Deep Learning: Empat Strategi Revolusioner untuk Menghidupkan Kelas Matematika

Malang, 13 September 2025. Apa jadinya jika siswa SMP merancang sistem irigasi sederhana, menghitung biaya produksi donat sehat, atau menganalisis data sampah lingkungan menggunakan konsep statistika? Semua ini bukan khayalan karena ini adalah wujud nyata kelas matematika masa kini yang hidup, relevan, dan penuh makna. Gagasan ini terkemuka dalam Kuliah Pakar (Visiting Professor) Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang pada 13 September 2025. Empat pakar nasional terdiri dari Dr. Taufiqulloh Dahlan, Dr. Rahaju, Dr. Nia Kania, dan Dr. Arif Hidayatul Khusna hadir memberikan pandangan segar tentang integrasi Project-Based Learning (PjBL) dan Deep Learning (DL) sebagai jantung transformasi pembelajaran matematika abad ke-21. “Saatnya Tinggalkan Matematika Prosedural” Membuka sesi dengan data mengejutkan dari hasil PISA 2022, Dr. Taufiqulloh menegaskan bahwa lebih dari 99% siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal LOTS (Lower Order Thinking Skills). Menurutnya, ini akibat dominasi pembelajaran prosedural yang mengutamakan hafalan rumus bukan pemahaman konseptual. Solusinya apa si? Solusinya adalah Integrasi PjBL dan Deep Learning. Melalui proyek nyata seperti menghitung kebutuhan pupuk untuk lahan pertanian berbentuk tidak beraturan. Pada kegiatan ini siswa tidak hanya menerapkan rumus luas, tapi juga memahami mengapa dan kapan konsep itu digunakan. “Pembelajaran harus berangkat dari kebutuhan nyata, bukan dari daftar materi,” tegasnya. “Guru Harus Jadi Desainer Media yang Reflektif” Berbeda dari narasumber sebelumnya, Dr. Rahaju dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang mengarahkan fokus pada pengembangan media pembelajaran. Ia menantang calon guru untuk tidak hanya memakai PowerPoint saja, tetapi merancang media yang tepat sasaran, kontekstual, dan berlandaskan teori pedagogis. Dalam perkuliahannya, mahasiswa melakukan observasi langsung di sekolah, menganalisis kebutuhan siswa, lalu merancang media yang menjawab tantangan nyata di kelas. Hasilnya apa? Media yang tidak sekadar menarik secara visual, tapi juga memantik pertanyaan, memperdalam konsep, dan bisa dilindungi HKI. “Media yang baik tidak memberi jawaban instan, tetapi ia memicu rasa ingin tahu,” ujarnya. “Deep Learning Itu Menyenangkan Kalau Kontekstual!” Bagi Dr. Nia Kania dari Universitas Majalengka, Deep Learning bukan soal kerumitan, tapi kesenangan dalam memahami. Ia mencontohkan tiga proyek inspiratif, yang pertama “Desain Taman Sekolah” yang menggabungkan geometri, ekonomi, dan keberlanjutan. Kemudian yang kedua “Analisis Sampah Komunitas” yang mengolah data real untuk membuat rekomendasi lingkungan. Terakhir yang ketiga “Model Keuangan Keluarga” yang mana mengaitkan persamaan linear dengan literasi finansial. “Berdasarkan studi kasus yang diberikan, para siswa mudah memahami karena saat matematika dikaitkan dengan kehidupan, maka siswa tidak bertanya ‘Kapan ini dipakai?’, tapi langsung terlibat menyelesaikan masalah” Ujarnya. Ia menekankan bahwa HOTS muncul secara alami ketika konteksnya bermakna bukan karena dipaksa lewat soal ujian. “Jangan Tunggu Siswa Paham Dulu, Biarkan Proyek Jadi Guru Mereka” Penutup yang memukau datang dari Dr. Arif Hidayatul Khusna, dosen UMM sekaligus praktisi PjBL. Ia menolak anggapan bahwa proyek hanya bisa diberikan setelah siswa paham konsep. Justru sebaliknya, Karena “Proyek adalah medan eksplorasi para siswa mengalami konflik kognitif melalui bertanya, mencoba, gagal, lalu akhirnya memahami dengan utuh. Dalam contohnya, siswa SMP merancang model harga jual donat menggunakan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel bukan karena guru mengajarkan teorinya dulu, tapi karena mereka butuh solusi nyata. Proses presentasi dan diskusi kelompok menjadi ajang memperbaiki miskonsepsi dan memperkuat argumen matematis.