PBL & Deep Learning: Kunci Rahasia untuk Matematika yang Menggugah, Bukan Membosankan!

Malang, 16 Agustus 2025. Apakah Anda masih ingat saat-saat di kelas matematika dulu? Saat guru menulis rumus di papan dan kita hanya bisa menghafalnya tanpa tahu mengapa rumus itu ada? Atau saat kita terpaksa mengerjakan soal-soal yang terasa jauh dari kehidupan nyata? Jika iya, Anda tidak sendiri. Tapi kabar baiknya, masa depan pembelajaran matematika sedang berubah dan perubahan itu dimulai dari sini. Dalam rangkaian Kuliah Pakar (Visiting Professor) pada Agustus 2025 yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang yang dihadiri oleh empat pakar nasional yaitu, Prof. Ahmad, Dr. Wiwin Sri Hidayati, Dr. Indah Widiati, dan Dr. Risnanosanti. Mereka berbagi visi revolusioner tentang bagaimana membuat matematika menjadi pelajaran yang hidup, relevan, dan benar-benar menyenangkan. Mereka tidak hanya membahas teori, tetapi juga memberikan resep konkret untuk mengubah kelas matematika menjadi arena eksplorasi, kolaborasi, dan pemahaman mendalam. “Matematika Bukan Hafalan, Tapi Alat untuk Memecahkan Masalah Nyata” Pembicara pertama, Prof. Ahmad dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto, membuka diskusi dengan data yang mencengangkan dari hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 99% murid Indonesia hanya mampu menjawab soal Level 1-3, atau Lower Order Thinking Skills (LOTS), sementara kurang dari 1% yang bisa menyelesaikan soal Level 4-6, yaitu Higher Order Thinking Skills (HOTS). Ia menegaskan bahwa pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru dan cenderung hafalan adalah akar masalahnya. Solusinya dari Prof. Ahmad, adalah mengembalikan fokus matematika ke tujuan utamanya yaitu memecahkan masalah. Ia menekankan bahwa matematika bukan sekadar kumpulan rumus, tetapi alat yang kuat untuk memahami dan mengubah dunia. Dengan pendekatan Problem-Based Learning (PBL), siswa diajak untuk menghadapi masalah nyata, seperti menghitung proporsi bahan makanan bergizi atau merancang model transportasi yang efisien. Dalam proses ini, siswa tidak lagi sekedar menghafal, tetapi benar-benar memahami konsepnya dan menerapkannya dalam konteks yang relevan. “Matematika seharusnya menjadi alat untuk memahami dunia, bukan beban yang harus dihafal,” ujarnya. Oleh karena itu, melalui PBL kita mengajak siswa untuk menjadi penyelesai masalah, bukan penghafal rumus. “Buat Siswa Senang Belajar Matematika dengan Pendekatan Student Centered” Pembicara kedua, Dr. Wiwin Sri Hidayati dari Universitas PGRI Jombang, membawa dimensi emosional ke dalam diskusi. Ia menekankan pentingnya membuat siswa senang belajar matematika. Menurutnya, pembelajaran matematika yang efektif harus berpusat pada siswa (student centered) dan menciptakan suasana yang menyenangkan, bermakna, dan menggembirakan. Dr. Wiwin menjelaskan bahwa integrasi PBL dan Deep Learning sangat memungkinkan untuk mewujudkan pembelajaran yang mengedepankan kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta komunikatif. Ia memberikan contoh konkret implementasi PBL di kelas SMP, di mana siswa diajak untuk memecahkan masalah nyata, seperti menghitung anggaran proyek kelas yang berhubungan dengan kewirausahaan. Ia juga menyoroti pentingnya refleksi sebagai inti dari Deep Learning. Proses pembelajaran harus diakhiri dengan refleksi, tujuannya untuk mengajak siswa memikirkan ulang proses berpikir mereka dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan nyata. “Kita tidak hanya ingin siswa pintar, tapi juga senang belajar,” ujarnya. “Dengan pendekatan ini, matematika bukan lagi mata pelajaran yang menakutkan, tapi justru menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bermakna.” “Deep Learning: Membangun Pemahaman yang Mengakar, Bukan Sekadar Permukaan” Pembicara ketiga, Dr. Indah Widiati dari Universitas Islam Riau, membahas aspek filosofis dan holistik dari Deep Learning. Ia mengutip dari Marton dan Säljö (1976) yang membedakan dua pendekatan belajar yaitu surface learning (permukaan) dan deep learning (mendalam). Siswa yang belajar secara permukaan hanya fokus pada nilai atau penghargaan, sedangkan siswa yang belajar secara mendalam memiliki motivasi intrinsik untuk memahami dan mengeksplorasi lebih banyak. Menurut Dr. Indah, Deep Learning adalah pendekatan yang memuliakan, dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Ini berarti guru harus merancang pengalaman belajar yang membuat siswa sadar akan tujuan belajar mereka, melihat relevansi materi dengan dunia nyata, dan merasa senang selama proses belajar. Ia menekankan pentingnya refleksi sebagai inti dari Deep Learning karena bertujuan untuk membantu mengukuhkan pemahaman, dan juga mengembangkan metakognisi siswa. “Integrasi PBL, Deep Learning, dan STEM: Membuat Matematika Relevan dengan Dunia Nyata” Pembicara terakhir, Dr. Risnanosanti dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, menutup acara dengan menyatukan semua ide yang telah disampaikan. Ia menyebut integrasi PBL, Deep Learning, dan pendidikan STEM sebagai “tiga pilar vital untuk transformasi pembelajaran matematika”. Keduanya saling melengkapi satu sama lain, PBL menyediakan aktivitas kontekstual dan kolaboratif, sementara Deep Learning menekankan pada refleksi, koneksi konsep, dan pemahaman mendalam. Dr. Risnanosanti memberikan studi kasus konkret penerapan strategi ini dalam kerangka pendidikan STEM. Ia mencontohkan bagaimana siswa dapat menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait dengan budaya lokal, seperti perayaan Tabot atau permainan tradisional telong-telong. Dengan cara ini, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman matematika yang mendalam, tetapi juga mengembangkan keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Ia menekankan bahwa guru bukan hanya penyampai pengetahuan, tetapi perancang pengalaman belajar yang menumbuhkan cara berpikir kritis, reflektif, dan bermakna. “Ini bukan hanya tentang mengajar matematika, tapi tentang mendidik generasi yang siap menghadapi tantangan dunia nyata,” pungkasnya. Jadi, apakah Anda siap untuk mengubah cara Anda mengajar matematika? Mari bergabung dalam perjalanan menuju pembelajaran matematika yang lebih hidup, relevan, dan menyenangkan! (Syrl)